Kamis, 15 Januari 2015

METODE PENILAIAN PERSEDIAAN



METODE PENILAIAN PERSEDIAAN

1.       Penilaian Persediaan Berdasarkan Harga Pokok
a.       Metode Identifikasi Khusus
Dyckman, Dukes, Davis (2000:392) mengatakan bahwa, “metode identifikasi biaya khusus mensyaratkan bahwa setiap barang yang disimpan harus ditandai secara khusus sehingga biaya per unitnya dapat diidentifikasi setiap waktu”.
Metode identifikasi biaya khusus menghubungkan arus biaya secara langsung dengan arus biaya secara periodic.
Sebenarnya metode ini sangat menarik tapi memiliki biaya yang tinggi. Apalagi kalau jenis dan harga barang berbeda pasti akan lamban dan membutuhkan banyak biaya. Oleh karena itu metode ini sangat jarang digunakan oleh perusahaan dagang.
b.      Metode LIFO (last in First Out)
1.       Sistem Periodik
Adalah penilaian persediaan yang ditentukan dengan cara saldo periodic yang ada dikalikan harga pokok per unit barang yang masuk pada awal periode. Bila saldo periodic terlalu besar dari barang yang masuk pada awal periode, diambilkan dari harga pokok per unit yang masuk berikutnya.
Contoh :
Harga pokok barang yang tersedia untuk dijual                                 Rp 2.500.000
Dikurangi persediaan akhir
(500 unit per perhitungan fisik)
300 unit @Rp 5.000
(terlama tersedia, dari persediaan 1 jan)                    Rp 1.500.000
200 unit @ Rp 2.000
    (terlama tersedia, dari persediaan 1 jan)                              Rp 400.000
Persediaan akhir                                                                                     Rp 1.900.000
HPP                                                                                                        Rp   600.000
2.      Sistem Perpetual
Adalah suatu metode penilaian persediaan yang pencatatan persediaannya dilakukan secara terus-menerus dalam kartu persediaan.
HPP dicatat berdasarkan harga pokok pertama kali masuk. Jumlah yang masih tersisa merupakan nilai persediaan akhir. Dalam periode inflasi metode LIFO akan menghasilkan kemungkinan laba bersih terendah. Alasannya karena harga pokok barang yang diperoleh terakhir akan mendekati nilai ganti barang yang dijual.
Keuntungan lain adalah penghematan pajak karena laba yang dihasilkan adalah yang paling rendah sehingga akan menghasilkan pajak penghasilan yang lebih rendah.
Bila dibandingkan dengan metode FIFO ataupun metode rata-rata dalam periode deflasi, pengaruh yang terjadi adalah kebalikannya.
Contoh : LIFO Perpetual

Tgl
Pembelian
Penjualan (pengeluaran
Saldo Persediaan

Unit
Biaya/Unit ($)
Total Biaya ($)
Unit
Biaya/
Unit ($)
Total
 Biaya ($)
Unit
Biaya/
Unit ($)
Total
 Biaya ($)
Jan 1






500
1.00
500
Jan 7
300
2
600



500
1
500







300
2
600
Jan 8



200
2
400
500
1
500







100
2
200
Jan 9



100
2
200







100
1
100
400
1
400

Persediaan Akhir
Harga Pokok Penjualan (HPP) 700


400

c.       Metode FIFO
Ikatan Akuntan Indonesia (2007 : 14.21) merumuskan FIFO sebagai berikut, “formula MPKP / FIFO mengasumsikan barang dalam persediaan yang pertama dibeli akan dijual atau digunakan terlebih dahulu sehingga yang tertinggal dalam persediaan akhir adalah yang dibeli atau diproduksi kemudian”.
1.       Sistem Periodik
Persediaan akhir ditentukan dengan cara saldo periodic yang ada dikalikan dengan harga pokok per unit barang yang terakhir kali masuk. Bila saldo periodic ternyata lebih besar dari jumlah unit terakhir masuk, sisanya dipergunakan harga pokok per unit yang masuk sebelumnya.
Contoh :
Persediaan Awal                                                              Rp 2.500.000
Ditambah pembelian selama periode tersebut                    Rp 3.000.000
Harga pokok barang tersedia untuk dijual                            Rp 5.500.000
Dikurangi persediaan akhir perhitungan periodic persediaan
300 unit @Rp 5.000 (terbaru tgl 24)               Rp 1.500.000
200 unit @ Rp 2.000                                           Rp   400.000
Persediaan akhir                                                                               Rp 1.900.000
HPP                                                                                                   Rp 3.100.000
2.      Sistem Perpetual
Suatu metode penilaian persediaan yang pencatatan persediaannya dilakukan terus-menerus dalam kartu persediaan.
HPP dicatat berdasarkan harga pokok barang pertama masuk. Jumlah yang masih tersisa merupakan nilai persediaan akhir . Selama periode inflasi penggunaan metode FIFO akan menghasilkan kemungkinan laba tertinggi dibandingkan dengan metode-metode yang lain, karena perusahaan cenderung untuk menaikkan harga jualnya sesuai dengan perkembangan pasar tanpa memperhatikan kenyataan bahwa barang yang terdapat dalam persediaaan telah diperoleh sebelum terjadinya kenaikan  harga (inventory profit/laba persediaan atau laba semu/illusory profit).









Tgl
Pembelian
Penjualan (pengeluaran
Saldo Persediaan

Unit
Biaya/Unit ($)
Total Biaya ($)
Unit
Biaya/
Unit ($)
Total
 Biaya ($)
Unit
Biaya/
Unit ($)
Total
 Biaya ($)
Jan 1






500
1.00
500
Jan 7
300
2
600



500
1
500







300
2
600
Jan 8



200
1
200
300
1
300







300
2
600
Jan 9



100
1
100
200
1
200







300
2
600




100
1
100
100
1
100


300
2
600

Persediaan Akhir
Harga Pokok Penjualan (HPP) 400


700

d.      Metode Rata-Rata
1.       Periodik
Ikatan Akuntan Indonesia (2007:14.21) merumuskan biaya rata-rata tertimbang, biaya setiap barang ditentukan berdasarkan biaya rata-ratatertimbang dari barang serupa pada awal periode dan biaya barang serupa yang dibeli atau diproduksi selama periode. Perhitungan rata-rata dapat dilakukan secara berkala atau pada setiap penerimaan kiriman, bergantung pada keadaan perusahaan.
Asumsi metode ini adalah unit dijual tanpa memperhatikan urutan pembeliaannya dan menghitung harga pokok penjualan serta persediaan akhir.
Contoh :
Barang Tersedia
Per Unit
1 Jan
Pembelian
200
$ 1
$200
9 Jan
Pembelian
300
$ 1,1
  300
15 Jan
Pembelian
400
$ 1,16
  464
24 Jan
Pembelian
100
$1,12
  126
Total Tersedia

1.000

1.120
Persediaan akhir rata-rata tertimbang


31 Jan

300
1,12
336
HPP Rata-rata tertimbang


Penjualan selama Januari
700
1,12
784
Unit biaya rata-rata tertimbang (1.120 / 1000 = 1.12)

2.      Rata-rata Bergerak (system pencatatan perpetual)
Metode ini tidak menandingkan biaya per unit paling akhir dengan pendapatan penjualan periode berjalan. Namun menandingkan biaya rata-rata periode tersebut dengan pendapatan dan nilai persediaan akhir, leh karena itu jika biaya per unit pasti meningkat atau menurun maka metode rata-rata bergerak akan memberikan jumlah persediaan dan harga pokok yang berada diantara metode penilaian FIFO dan LIFO.
a.       Metode LCM (Nilai Terendah antara harga pokok atau harga pasar)
Ø      Menetapkan nilai pasar
>> biaya penggantian jika jatuh diantara harga tertinggi dari harga terendah
>> harga terendah, jika biaya penggantian lebih kecil dari harga terendah
>> harga tertinggi, jika biaya penggantian lebih tinggi daripada harga tertinggi
Ø      Membandingkan nilai pasar dengan harga pertama-tama dan memilih jumlah yang lebih rendah.

Komoditas
Kuantitas
Persediaan
Biaya
Per Unit
Harga Psaar
Per Unit           Biaya
Pasar
Lebih rendah
Biaya    atau    Pasar
A
400
$ 10,25
$ 9,50
$ 4,100
$3,800
$
3,800
B
12
   22,50
  24,10
  2,700
  2,892
$
2,700
C
600
   8,0
  7,75
  4,800
  4,650
$
4,650
D
280
   14,00
  14,75
  3,920
  4,130
$
3,920
TOTAL



$15,520
$15,472

$15,070
Sumber : Warren, Reeve, Fees (2005 : 457)
b.      Penilaian pada nilai realisasi Bersih
Menurut Warren, Reeve, Fees (2005 : 457) nilai realisasi adlah estimasi harga jual dikurangi biaya pelepasan langsung, seperti komisi penjualan”.
Hal ini timbul misalnya, jika suatu barang persediaan, yang dicantumkan sebesar nilai realisasi karena harga jualnya telh turun, masih dimiliki pada periode berikutnya dan harga jualnya telah meningkat.
c.       Metode Eceran
Menurut Warren, Reeve, Fees (2005 : 459) mengatakan, “metode persediaan eceran (retail inventory metgod) mengestimasikan biaya persediaan berdasarkan hubungan antara harga pokok barang dagang yang sama. Untuk menggunakan metode ini harga eceran dari semua barang dagang harus ditetapkan dan dijumlahkan. Berikutnya, persediaan eceran ditentukan dengan mengurangi penjualan selama periode bersangkutan.
Estimasi biaya persediaan kemudian dihitung dengan mengalihkan persediaan eceran dengan rasio biaya terhadap harga jual (eceran) barang dagang yang tersedia untuk dijual.


Harga Pokok
Harga Eceran
Perseiaan barang dagangan, 1 jan

$ 20.000
$ 25.000
Pembelian Bulan Jan (Bersih)

$ 30.000
$ 40.000
Barang yang tersedia dijual

$ 50.000
$ 65.000
Rasio biaya thdap harga eceran
$50.000
$65.000
= 77%


Penjualan bulan Jan (bersih)


$ 55.000
Persediaan brg dagang 31 Jan pd eceran


$ 10.000
Persediaan brg dagangan 31 jan pd estimasi biaya ($10,000x77%)




d.      Persediaan Berdasarkan Metode Laba Kotor
Soemarso (2002 : 394) menyatakan bahwa , “ metode laba bruto atau metode laba kotor (gross profit method) : metode penetapan harga pokok persediaan secara taksiran yang didasarkan atas hubungan, yang terdapat dalam periode yang lalu, antara laba bruto dengan harga jual. Metode laba kotor menggunakan estimasi laba kotor yang direalisasi selama periode dimaksud untuk mengetimasi persediaan pada akhir periode. Laba kotor biasanya diestimasikan dari tahun sebelumnya, disesuaikan dengan setiap perubahan yang terjadi dengan harga pokok dan harga jual selama periode berjalan.
Persediaan barang dagangan, 1 jan


$ 25.000
Pembelian Bulan Jan (Bersih)


$ 40.000
Barang yang tersedia dijual


$ 65.000
Penjualan bulan Jan (bersih)

$ 55.000

Dikurangi : estimasi laba kotor (30% (dlam soal) x $55.000)

$ 16.500

Estimasi harga pokok penjualan


$38.500
Estimasi Persediaan brg dagang 31 Jan


$ 26.500






Tidak ada komentar:

Posting Komentar