METODE PENILAIAN PERSEDIAAN
1.
Penilaian Persediaan Berdasarkan Harga Pokok
a.
Metode Identifikasi Khusus
Dyckman, Dukes, Davis (2000:392)
mengatakan bahwa, “metode identifikasi biaya khusus mensyaratkan bahwa setiap
barang yang disimpan harus ditandai secara khusus sehingga biaya per unitnya
dapat diidentifikasi setiap waktu”.
Metode identifikasi biaya khusus
menghubungkan arus biaya secara langsung dengan arus biaya secara periodic.
Sebenarnya metode ini sangat menarik
tapi memiliki biaya yang tinggi. Apalagi kalau jenis dan harga barang berbeda
pasti akan lamban dan membutuhkan banyak biaya. Oleh karena itu metode ini
sangat jarang digunakan oleh perusahaan dagang.
b.
Metode LIFO (last in First Out)
1.
Sistem Periodik
Adalah penilaian persediaan yang
ditentukan dengan cara saldo periodic yang ada dikalikan harga pokok per unit
barang yang masuk pada awal periode. Bila saldo periodic terlalu besar dari
barang yang masuk pada awal periode, diambilkan dari harga pokok per unit yang
masuk berikutnya.
Contoh :
Harga pokok barang yang tersedia untuk
dijual
Rp 2.500.000
Dikurangi persediaan akhir
(500 unit per perhitungan fisik)
300 unit @Rp 5.000
(terlama tersedia, dari persediaan 1
jan)
Rp 1.500.000
200 unit @ Rp 2.000
(terlama tersedia,
dari persediaan 1
jan)
Rp 400.000
Persediaan
akhir
Rp 1.900.000
HPP
Rp 600.000
2.
Sistem Perpetual
Adalah suatu metode penilaian
persediaan yang pencatatan persediaannya dilakukan secara terus-menerus dalam
kartu persediaan.
HPP dicatat berdasarkan harga pokok
pertama kali masuk. Jumlah yang masih tersisa merupakan nilai persediaan akhir.
Dalam periode inflasi metode LIFO akan menghasilkan kemungkinan laba bersih
terendah. Alasannya karena harga pokok barang yang diperoleh terakhir akan
mendekati nilai ganti barang yang dijual.
Keuntungan lain adalah penghematan
pajak karena laba yang dihasilkan adalah yang paling rendah sehingga akan
menghasilkan pajak penghasilan yang lebih rendah.
Bila dibandingkan dengan metode FIFO
ataupun metode rata-rata dalam periode deflasi, pengaruh yang terjadi adalah
kebalikannya.
Contoh : LIFO Perpetual
Tgl
|
Pembelian
|
Penjualan (pengeluaran
|
Saldo Persediaan
|
||||||
Unit
|
Biaya/Unit ($)
|
Total Biaya ($)
|
Unit
|
Biaya/
Unit ($)
|
Total
Biaya ($)
|
Unit
|
Biaya/
Unit ($)
|
Total
Biaya ($)
|
|
Jan 1
|
500
|
1.00
|
500
|
||||||
Jan 7
|
300
|
2
|
600
|
500
|
1
|
500
|
|||
300
|
2
|
600
|
|||||||
Jan 8
|
200
|
2
|
400
|
500
|
1
|
500
|
|||
100
|
2
|
200
|
|||||||
Jan 9
|
100
|
2
|
200
|
||||||
100
|
1
|
100
|
400
|
1
|
400
|
||||
Persediaan Akhir
Harga Pokok Penjualan (HPP) 700
|
400
|
||||||||
c.
Metode FIFO
Ikatan Akuntan Indonesia (2007 : 14.21)
merumuskan FIFO sebagai berikut, “formula MPKP / FIFO mengasumsikan barang
dalam persediaan yang pertama dibeli akan dijual atau digunakan terlebih dahulu
sehingga yang tertinggal dalam persediaan akhir adalah yang dibeli atau
diproduksi kemudian”.
1.
Sistem Periodik
Persediaan akhir ditentukan dengan cara
saldo periodic yang ada dikalikan dengan harga pokok per unit barang yang
terakhir kali masuk. Bila saldo periodic ternyata lebih besar dari jumlah unit
terakhir masuk, sisanya dipergunakan harga pokok per unit yang masuk
sebelumnya.
Contoh :
Persediaan
Awal
Rp 2.500.000
Ditambah pembelian selama periode
tersebut
Rp 3.000.000
Harga pokok barang tersedia untuk
dijual
Rp 5.500.000
Dikurangi persediaan akhir perhitungan
periodic persediaan
300 unit @Rp 5.000
(terbaru tgl
24)
Rp 1.500.000
200 unit @ Rp 2.000
Rp 400.000
Persediaan
akhir
Rp 1.900.000
HPP
Rp 3.100.000
2.
Sistem Perpetual
Suatu metode penilaian persediaan yang
pencatatan persediaannya dilakukan terus-menerus dalam kartu persediaan.
HPP dicatat berdasarkan harga pokok
barang pertama masuk. Jumlah yang masih tersisa merupakan nilai persediaan
akhir . Selama periode inflasi penggunaan metode FIFO akan menghasilkan
kemungkinan laba tertinggi dibandingkan dengan metode-metode yang lain, karena
perusahaan cenderung untuk menaikkan harga jualnya sesuai dengan perkembangan
pasar tanpa memperhatikan kenyataan bahwa barang yang terdapat dalam
persediaaan telah diperoleh sebelum terjadinya kenaikan harga (inventory
profit/laba persediaan atau laba semu/illusory profit).
Tgl
|
Pembelian
|
Penjualan (pengeluaran
|
Saldo Persediaan
|
||||||
Unit
|
Biaya/Unit ($)
|
Total Biaya ($)
|
Unit
|
Biaya/
Unit ($)
|
Total
Biaya ($)
|
Unit
|
Biaya/
Unit ($)
|
Total
Biaya ($)
|
|
Jan 1
|
500
|
1.00
|
500
|
||||||
Jan 7
|
300
|
2
|
600
|
500
|
1
|
500
|
|||
300
|
2
|
600
|
|||||||
Jan 8
|
200
|
1
|
200
|
300
|
1
|
300
|
|||
300
|
2
|
600
|
|||||||
Jan 9
|
100
|
1
|
100
|
200
|
1
|
200
|
|||
300
|
2
|
600
|
|||||||
100
|
1
|
100
|
100
|
1
|
100
|
||||
300
|
2
|
600
|
|||||||
Persediaan Akhir
Harga Pokok Penjualan (HPP) 400
|
700
|
||||||||
d.
Metode Rata-Rata
1.
Periodik
Ikatan Akuntan Indonesia (2007:14.21)
merumuskan biaya rata-rata tertimbang, biaya setiap barang ditentukan
berdasarkan biaya rata-ratatertimbang dari barang serupa pada awal periode dan
biaya barang serupa yang dibeli atau diproduksi selama periode. Perhitungan
rata-rata dapat dilakukan secara berkala atau pada setiap penerimaan kiriman,
bergantung pada keadaan perusahaan.
Asumsi metode ini adalah unit dijual
tanpa memperhatikan urutan pembeliaannya dan menghitung harga pokok penjualan
serta persediaan akhir.
Contoh :
Barang Tersedia
|
Per Unit
|
|||
1 Jan
|
Pembelian
|
200
|
$ 1
|
$200
|
9 Jan
|
Pembelian
|
300
|
$ 1,1
|
300
|
15 Jan
|
Pembelian
|
400
|
$ 1,16
|
464
|
24 Jan
|
Pembelian
|
100
|
$1,12
|
126
|
Total Tersedia
|
1.000
|
1.120
|
||
Persediaan akhir rata-rata tertimbang
|
||||
31 Jan
|
300
|
1,12
|
336
|
|
HPP Rata-rata tertimbang
|
||||
Penjualan selama Januari
|
700
|
1,12
|
784
|
|
Unit biaya rata-rata tertimbang
(1.120 / 1000 = 1.12)
|
||||
2.
Rata-rata Bergerak (system pencatatan perpetual)
Metode ini tidak menandingkan biaya per
unit paling akhir dengan pendapatan penjualan periode berjalan. Namun
menandingkan biaya rata-rata periode tersebut dengan pendapatan dan nilai
persediaan akhir, leh karena itu jika biaya per unit pasti meningkat atau
menurun maka metode rata-rata bergerak akan memberikan jumlah persediaan dan
harga pokok yang berada diantara metode penilaian FIFO dan LIFO.
a.
Metode LCM (Nilai Terendah antara harga pokok atau harga pasar)
Ø
Menetapkan nilai pasar
>> biaya penggantian jika jatuh
diantara harga tertinggi dari harga terendah
>> harga terendah, jika biaya
penggantian lebih kecil dari harga terendah
>> harga tertinggi, jika biaya
penggantian lebih tinggi daripada harga tertinggi
Ø
Membandingkan nilai pasar dengan harga pertama-tama dan memilih jumlah yang
lebih rendah.
Komoditas
|
Kuantitas
Persediaan
|
Biaya
Per Unit
|
Harga Psaar
Per
Unit Biaya
|
Pasar
|
Lebih rendah
Biaya
atau Pasar
|
||
A
|
400
|
$ 10,25
|
$ 9,50
|
$ 4,100
|
$3,800
|
$
|
3,800
|
B
|
12
|
22,50
|
24,10
|
2,700
|
2,892
|
$
|
2,700
|
C
|
600
|
8,0
|
7,75
|
4,800
|
4,650
|
$
|
4,650
|
D
|
280
|
14,00
|
14,75
|
3,920
|
4,130
|
$
|
3,920
|
TOTAL
|
$15,520
|
$15,472
|
$15,070
|
||||
Sumber : Warren, Reeve, Fees (2005 :
457)
b.
Penilaian pada nilai realisasi Bersih
Menurut Warren, Reeve, Fees (2005 :
457) nilai realisasi adlah estimasi harga jual dikurangi biaya pelepasan
langsung, seperti komisi penjualan”.
Hal ini timbul misalnya, jika suatu
barang persediaan, yang dicantumkan sebesar nilai realisasi karena harga
jualnya telh turun, masih dimiliki pada periode berikutnya dan harga jualnya
telah meningkat.
c.
Metode Eceran
Menurut Warren, Reeve, Fees (2005 :
459) mengatakan, “metode persediaan eceran (retail inventory metgod)
mengestimasikan biaya persediaan berdasarkan hubungan antara harga pokok barang
dagang yang sama. Untuk menggunakan metode ini harga eceran dari semua barang
dagang harus ditetapkan dan dijumlahkan. Berikutnya, persediaan eceran
ditentukan dengan mengurangi penjualan selama periode bersangkutan.
Estimasi biaya persediaan kemudian
dihitung dengan mengalihkan persediaan eceran dengan rasio biaya terhadap harga
jual (eceran) barang dagang yang tersedia untuk dijual.
Harga Pokok
|
Harga Eceran
|
||
Perseiaan barang dagangan, 1 jan
|
$ 20.000
|
$ 25.000
|
|
Pembelian Bulan Jan (Bersih)
|
$ 30.000
|
$ 40.000
|
|
Barang yang tersedia dijual
|
$ 50.000
|
$ 65.000
|
|
Rasio biaya thdap harga eceran
|
$50.000
$65.000
=
77%
|
||
Penjualan bulan Jan (bersih)
|
$ 55.000
|
||
Persediaan brg dagang 31 Jan pd
eceran
|
$ 10.000
|
||
Persediaan brg dagangan 31 jan pd
estimasi biaya ($10,000x77%)
|
d.
Persediaan Berdasarkan Metode Laba Kotor
Soemarso (2002 : 394) menyatakan bahwa
, “ metode laba bruto atau metode laba kotor (gross profit method) :
metode penetapan harga pokok persediaan secara taksiran yang didasarkan atas
hubungan, yang terdapat dalam periode yang lalu, antara laba bruto dengan harga
jual. Metode laba kotor menggunakan estimasi laba kotor yang direalisasi selama
periode dimaksud untuk mengetimasi persediaan pada akhir periode. Laba kotor
biasanya diestimasikan dari tahun sebelumnya, disesuaikan dengan setiap
perubahan yang terjadi dengan harga pokok dan harga jual selama periode
berjalan.
Persediaan barang dagangan, 1 jan
|
$ 25.000
|
||
Pembelian Bulan Jan (Bersih)
|
$ 40.000
|
||
Barang yang tersedia dijual
|
$ 65.000
|
||
Penjualan bulan Jan (bersih)
|
$ 55.000
|
||
Dikurangi : estimasi laba kotor (30% (dlam soal) x $55.000)
|
$ 16.500
|
||
Estimasi harga pokok penjualan
|
$38.500
|
||
Estimasi Persediaan brg dagang 31 Jan
|
$ 26.500
|
||
Tidak ada komentar:
Posting Komentar